Rabu, 24 November 2010

Berharap Pada KetidakPastian

Mengenalmu merupakan hal yang terindah yang pernah Tuhan berikan dalam hidupku. Berawal dengan persahabatan kemudian memberikan emosi yang berbeda dalam setiap hari-hari yang kita jalani. Tanpa mengapa, hal itu mewarnai setiap jalan hidup yang kulewati. Melewati hari-hari bersamamu terasa sangat berharga sehingga kadang harus dibayarkan dengan tetesan air mata. Semula, note ini tidak akancada, sampai suatu saat kusadari aku tak bisa memilikimu sehingga hati ini tak sengaja tergerak untuk mengabadikan setiap moment yang pernah kulewati bersamamu dengan seberkas tulisan yang mungkin tak berarti bagimu.
Lagi-lagi pengorbanan dan kerelaan menjadi sasaran yang paling pasti dalam note ini. Menjadi seorang yang merelakan dan berkorban sangatlah sulit, tetapi ketika kita bercerita dengan setiap ketikan note ini, mungkin dapat menjadi berarti dan lebih berharga daripada setiap tetesan yang selalu membasahi pipi tanpa alasan yang jelas. Pilihan selalu terbayang-bayang yang selalu berteriak untuk dipilih. sampai kapan persaan ini tak menentu?? ketidakjelasan sikap menjadi pembunuh berdarah dingi yang selalu menghantuiku.
Setiap aku memikirkanmu, ketakutan kehilanganmu sangatlah besar sampai suatu titik, air mataku terus berlinang, dan tembok menjadi tujuan pandang mata yang tak kuasa lagi menahan air mata. Semuanya mungkin hanya sebats mimpi. mimpi yang terlalu indah untuk dimimpikan. Mimpi indah ini mungkin segera berakhir. Ku hanya bisa berteriak dalam hati sementara hati ini mungkin tak ingin diteriaki.
Berjalan bersama, belajar bersama, duduk bersama, makan bersama dan melakukan aktivitas bersama seakan membunuhku perlahan-lahan. Sampai kapan aku dieutanesia oleh perasaanku dan kondisi yang seperti ini? Memilih dirimu dan mereka merupakan hal yang tersulit bagai memilih bagian dari tubuh ini. masing-masing memiliki fungsi masing-masing. Berharap kau merasakan hal yang sama merupakan hal yang terbodoh yang pernah aku bayangkan. harapan itu memang mungkin tak akan pernah terjadi. Ketidaksabaran selalu menjadi tudingan terakhir sisi positif. Aku sangat takut kehilangan setiap pandangan matamu. bahkan saat kau tak ada, perasaan ini berkelana tak menentu. Takut semuanya berakhir dengan ketidakenakan dan jaga jarak dalam hubungan ini. Menjadi sangat takut bila tak bisa merasakan moment indah seperti dulu. Apakah ini merupakan suatu permainan dalam perasaan? tak bisa ditebak juga. Menerka-nerka dan menanti-nantikan apa yang terjadi menjadi hal yang paling mendebar-debarkan hati ini. Biarlah waktu yang menguji dan jawaban itu datang pada waktunya.

Menentukan Pilihan atau Pilihan Yang Menentukan

Berjalan tanpa tujuan membuat kaki-kaki ini terasa pegal. Tak cukup waktu hanya untuk memahami dan terus memahami tanpa melakukan apa yang dipahami. Belajar mengaplikasikan awalnya susah unutk dijalani, tetapi seiring waktu berjalan, susah senang itu adalah hal yang biasa. Belajar dari orang lain merupakan hal yang tak merugikan keduanya, bisa dikatakan bersimbiosis mutualisme. Setiap membangun relasi dengan orang lain, salah satu hal yang menarik adalah memahami orang tersebut dari cara dia berkomunikasi atau bersosialisasi dengan orang lain. Kadang, ada orang yang sukses hanya dengan belajar dari orang lain. Tapi ada tidak orang yang sukses tanpa relasi dengan orang lain. So, betapa pentingnya suatu relasi dalam kehidupan ini. 
 Sampai suatu saat beremu dengan orang mungkin tidak terlalu membutuhkan orang lain. Merasa paling bisa dan paling tahu banyak hal. Merasa diri paling ok dan merasa diri paling dibutuhkan. Sebenarnya apa yang ingin didapatkan orang ini?, semakin saya mengenalnya semakin saya tahu apa yang orang ini inginkan dalam hidupnya.Kebanggaan, kekaguman dan pujian sangat menghidupi kehidupan orang ini. Entah apa arti sahabat baginya. Dalam hari-harinya sangat jarang dia berjalan dengan seseorang yang bisa berbagi dengannya. Apalagi kalau kita berbicara seseorang yang akan mendampingi hidupnya alias Pasangan Hidup. Beberapa kriteria bakal muncul dan membuat orang terkagum-kagum. Pria pun dah minder duluan mendekatinya. Tapi ada juga pria yang sampe nembak dia.
Sampai suatu titik, dia memilih untuk menentukan pilihannya dan ternyata dia membutuhkan orang lain. Pilihan yang diambil memang sulit, tapi tetap dijalani saja dengan kecuekan dia. Menentukan pilihan bagi sebagian orang merupakan hal yang tersulit tapi ketika pilihan itu sudah ditentukan, hanya sebagian orang yang bisa bertanggung jawab dengan pilihannya itu. Bisa dikatakan, pilihan juga bakal menentukan langkah selanjutnya yang akan kita pilih menjadi suatu pilihan-pilihan ketika pilihan itu sudah pilih....

Selasa, 23 November 2010

Barak Pengungsian Bagai Restaurant Tanpa Menu



Gunung merapi merupakan salah satu gunung berapi yang aktif di Indonesia. Gunung Merapi merupakan gunung api tipe strato, dengan ketinggian 2.980 meter dari permukaan laut. Secara administratif terletak pada 4 wilayah kabupaten yaitu Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Klaten. Status kegiatan Gunung Merapi ditingkatkan dari Normal menjadi Waspada pada tanggal 20 September 2010, ditingkatkan menjadi Siaga pada 21 Oktober 2010 dan menjadi Awas, terhitung sejak 25 Oktober 2010. Mencapai puncaknya pada tanggal 26 Oktober 2010 ketika  Merapi meletus. Daerah-daerah sekitar berubah menjadi kampung lumpur akibat semburan material gunung berapi berupa lahar, pasir, debu dan gas belerang. Letusan Merapi berakibat semburan awan panas, yang merupakan kumpulan material berupa debu yang bersuhu hingga 7000celcius dengan kecepatan laju mencapai 100km/jam. Aliran Piroklastik (awan panas) ini pun menelan korban jiwa yang tidak sempat menyelamatkan diri, kebanyakan bermukim tidak jauh dari kaki Merapi. Hujan debu tidak hanya mengguyur kawasan lereng-lereng Merapi, debupun  mencapai kawasan Kaliurang, Sleman hingga daerah Jawa Tengah dan sekitarnya. Sekitar tiga kecamatan di lereng Merapi di kawasan kabupaten Sleman harus dikosongkan. Beberapa daerah menjadi lokasi pengungsian warga seperti beberapa kampus Jogja, Muntilan dan Magelang kota. 

Material Letusan Merapi Mengalir ke Kaliurang
Gunung Merapi telah bererupsi dengan sifat erupsi elusif (aliran) dan bukan eksplosif. Aliran material yang berasal dari gunung berapi itu merupakan bukti letusan. Material letusan mengalir ke selatan Merapi. Karena berdasarkan pengalaman letusan Merapi sebelumnya menyamping dan tidak menyembur ke atas. Kepala Bidang Gempa Bumi dan Gerakan Tanah Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana (PVMG) I Gede Swantika kepada detik.com, Selasa (26/10/2010) pukul 19.30 WIB. Gede mengatakan, semburan material Merapi diperkirakan mengarah ke selatan, tepatnya ke arah Kaliurang, Sleman, Yogyakarta. Bukti letusan ditandai dengan menggumpalnya awan panas atau wedhus gembel yang membawa material pasir panas
Fenomena letusan gunung Merapi sudah menjadi tidak asing. Merapi merupakan salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia. Bila terjadi letusan, warga di sekitar lereng gunung dengan radius titik rawan tertentu dievakuasi ke tempat aman. Namun, warga biasanya enggan untuk dievakuasi dengan alasan hidup mati mereka di Merapi, terlebih bagi para lanjut usia yang telah merasa “sejiwa” dengan Merapi. Warga yang hidup di sekitar Merapi memang sudah memahami bahwa Merapi bisa kapan saja bergejolak namun ada saja alasan untuk tidak beranjak. Merapi mengalami siklus erupsi dalam rentang tahun tertentu, sempat tercatat pada tahun 1930  menyebabkan hancurnya kubah lava dan munculnya awan panas hingga radius 13 kilometer. Belum lagi letusan yang terjadi dalam kurun waktu 1872, 1870, 1984, 1992  dan 1994. Tercatat pada tahun 1872 menyebabkan muntahan material mencapai volume 100juta meter kubik.  
Proses evakuasi pada saat terjadinya bencana letusan Merapi, dilakukan dengan menempatkan korban ke tempat yang aman dari titik rawan bencana. Tempat pengungsian tidak hanya terdiri dari barak-barak darurat sementara, namun adapula rumah-rumah penduduk yang sukarela menjadikan rumahnya sebagai tempat pengungsian. Posko-posko penanganan bencana pun didirikan, untuk penggalangan bantuan logistik dari sukarelawan maupun instansi-instansi lain. Tak dipungkiri memang, minimnya fasilitas dan sarana pascabencana. Mengingat jumlah pengungsi berbanding terbalik dengan jumlah fasilitas yang masih utuh. Kamar mandi, dapur dan tempat untuk tidur darurat menjadi hal yang sangat penting agar kebutuhan tiap pengungsi terpenuhi. Donasi dari tiap instansi pun mulai berdatangan baik itu dalam bentuk uang, beras dan makanan serta pakaian bekas. Bantuan bahan pangan terdiri dari bahan makanan instan maupun siap saji lainnya yang dikemas dalam plastik ataupun kalengan. Pengelolaan bantuan hingga layak dikonsumsi dilakukan secara gotong royong oleh pengungsi terutama kaum wanita. Kaum pria difokuskan untuk mencari bantuan logistik dan pembangunan sarana MCK darurat. Minimnya fasilitas yang ada memungkinkan para pengungsi tidak memperhatikan aspek-aspek sanitasi untuk kesehatan mereka sendiri. Pada umumnya untuk persoalan bencana, aspek sanitasi menjadi poin kesekian bagi pengungsi, mengingat pemenuhan kebutuhan pun sudah sangat susah diperoleh karena hanya mengharapkan bantuan logistik. Apalagi jika pengelolaan makanan hingga layak dikonsumsi oleh banyak orang, faktor higienitas mungkin tidak terlalu penting untuk  diperhatikan. Belum lagi beberapa MCK yang tidak jelas aliran pembuangannya serta tempat-tempat pembuangan sampah rumah tangga hasil pengelolaan makanan. Jika diperhatikan, faktor sanitasi yang buruk jugalah yang menjadi salah satu penyebab terjadinya penyakit-penyakit bagi para pengungsi. Sanitasi yang buruk dan tingkat kehigienisan makanan yang tidak diperhatikan. Belum lagi jumlah pengungsi yang begitu padat menempati satu areal tertentu yang saling berdesak-desakan memungkinkan penularan macam-macam penyakit yang begitu cepat. Perlu diperhitungkan juga persoalan plastik sebagai kemasan makanan maupun sebagai wadah tempat makanan ataupun barang-barang lainnya. Banyaknya bantuan logistik berkemasan plastik bisa saja menyebabkan lingkungan penuh dengan sampah yang sulit diuraikan.  Begitu banyak poin penting yang semestinya diperhatikan ketika pascabencana. Bukan hanya persoalan relokasi untuk tempat tinggal pengungsi selanjutnya, namun aspek-aspek sanitasi untuk peningkatan mutu kehidupan masyarakat pengungsi. Faktor minimnya sarana dan prasarana memang mempengaruhi tingkatan  pemenuhan kebutuhan pengungsi, namun tidak menjadi alasan untuk tidak memperhatikan aspek-aspek sanitasi kesehatan masyarakat.
Tidak ada seorangpun yang menginginkan bencana ini terjadi, sanitasi kesehatan  yang buruk bukan pillihan, namun satu-satunya hal yang diberikan sehingga pengungsi tidak dapat memilih hal lain selain hal itu. Masing-masing manusia punya hak untuk hidup lebih baik, namun mengapa tidak ada yang bisa memberikan beberapa pilihan yang lebih baik? Bukankah donasi dari berbagai kalangan sungguh banyak?
Para pengungsi tidak hanya mereka yang berasal dari golongan masyarakat ground level, tetapi juga masyarakat menengah ke atas. Suatu hal yang ironis terjadi antara dua golongan masyarakat tersebut. Bagi masyarakat menengah ke atas, mereka lebih memilih untuk “mengungsi” ke hotel-hotel dan penginapan, di mana sanitasi dan kesehatan makanannya tak perlu dipertanyakan lagi. Sedangkan para pengungsi dari masyarakat golongan ground level seolah tak diberi pilihan untuk makanan dan minumannya, dalam hal ini higienitasnya. Penyediaan makanan yang ala kadarnya, bahkan terkesan seadanya tanpa memperhatikan kesehatan dan higienitas makanan tersebut. Pemerintah hendaknya lebih memperhatikan aspek-aspek sanitasi kesehatan dan kehigienisan makanan pascabencana. Banyaknya donasi dari berbagai kalangan memungkinkan pengungsi memiliki pilihan yang lebih baik untuk kehidupan mereka. Bukankah tiap-tiap manusia memiliki hak untuk hidup yang lebih baik? Disinilah peranan pemerintah sangat diperlukan. Misalnya Jika bencana hanya dijadikan alasan untuk meminimkan bahkan meniadakan untuk pilihan yang lebih baik, buat apa hati nurani ciptaanNya ada di diri kita masing-masing.